Nabi Musa A.S. dan keluarganya menetap di Mesir. Mereka dikenal sebagai bangsa Israel. Akhirnya jumlah mereka semakin bertambah dan mencapai kekuasaan yang kokoh. Kaum Israel tidak bergaul dengan penduduk yang lain. Mereka tinggal terasing dan dianggap sebagai bangsa asing di Mesir.
Pada waktu itu, Mesir diperintah oleh Raja Firaun. Dia sangat sombong dan zalim. Dia berpikir dia adalah Tuhan. Rakyat hidup dalam kesedihan semasa pemerintahannya. Mereka dikerah untuk bekerja seperti hamba. Mereka dirantai dan dipukul dengan cemeti jika membantah. Kaum Israel dipandang rendah dalam masyarakat dan hidup dalam keadaan melarat serta miskin. Sesetengah daripada mereka hidup lemah dan mati kelaparan.
Ketika Firaun mengetahui jumlah penduduk Israel bertambah, dia sangat risau dan segera meminta opini dari para penasihatnya. Mereka memutuskan untuk menghapuskan kaum tersebut kerana tidak mau mereka menguasai Mesir di kemudian hari. Mereka mengetahui sebuah ramalan bahwa akan datang seorang pemimpin dari golongan Israek yang akan menentangnya. Maka mereka mulai menindas dan menganiayai kaum Israel dengan berbagai cara. Firaun memerintahkan supaya anak-anak lelaki yang dilahirkan oleh bangsa Israel, mesti dibunuh.
"Kami membacakan kepadamu sebahagian daripada kisah Musa dan Firaun dengan benar untuk orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Firaun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah-belah, dengan menindas segolongan daripada mereka, menyembelih anak lelaki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Firaun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Dan Kami hendak memberi kurnia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)."
(Al-Qasas, 28: 3-5)
Para tentera mulai melaksanakan perintah Firaun. Apabila mereka mendengar kelahiran seorang anak lelaki, mereka akan mengambil bayi tersebut dari tangan ibunya dan membunuhnya.
Ibu Nabi Musa A.S. adalah wanita berketurunan Israel. Pada zaman tersebut, ibunya telah melahirkan Musa secara rahasia. Musa selalu saja menangis ketika masih bayi, karena itu ibunya sangat cemas, cemas jika tentara firaun mendengar suara bayi tersebut. Allah telah mengilhamkan kepadanya supaya dia bersabar dan tidak takut. Dia mendapatkan kabar bahwa anaknya akan menjadi seorang nabi. Bayi tersebut diberi nama Musa. Dia menjaganya selama beberapa bulan setelah tidak sanggup lagi menyembunyikannya Allah telah memberi petunjuk kepadanya.
"Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; "Susuilah dia dan apabila kamu khuatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khuatir dan janganlah (pula) bersedih hati, kerana sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang)dari para rasul."
(Al-Qasas, 28: 7)
"Yaitu ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu suatu yang diilhamkan, Yaitu: "Letakkanlah ia (Musa) di dalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Firaun) musuh-Ku dan musuhnya. Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku."
(Thaaha, 20: 38-39)
Setelah nabi Musa berumur beberepa bulan, beliau dihanyutkan ke sungai Nil dalam sebuah peti. Setelah ibunya musa pulang, kakaknya musa berusaha mengikut peti tersebut menyusur sungai. Peti tersebut akhirnya sampai di satu tebing sungai yang dijadikan tempat mencuci oleh beberapa orang penduduk. Mereka meraih peti yang itu dan membukanya. Mereka apabila mendapat seorang bayi di dalamnya.
Penduduk yang menemukan kotak tersebut membawanya kepada Firaun, dalam rombongan itu juga ikut serta kakanya nabi Musa. Tanpa disadari, isteri Firaun sangat menyukai bayi tersebut dan bermaksud untuk menjadikannya anak angkat.
"Dan berkatalah isteri Firaun:"(ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak", sedangkan mereka tiada menyadari"
(Al-Qasas, 28: 9)
Nabi Musa A.S. mulai lapar dan menangis. Bayi tersebut disusukan oleh beberapa orang wanita tetapi gagal. Kakak nabi yang berada di situ berkata "Bolehkan saya membawa seorang wanita yang dapat menyusukannya". Raja memerintahkannya untuk segera membawa perempuan yang mau menyusui Musa. Dia berlari ke rumah dan menerangkan kepada ibunya tentang peristiwa tersebut. Dia meminta ibunya pergi ke rumah Firaun bersamanya. Lalu sampailah mereka di sana dan Nabi Musa AS baru bisa dan mau minum.
"Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya."
(Al-Qasas, 28: 13)
Nabi Musa A.S. tumbuh besar dan diperlakukan sebagi anak kandung Fir’aun. Musa diajarkan aya hidup yang sombong sebagaimana yang dilakukan oleh Firaun pada saat itu, termasuk kebenciannnya terhadap bani Israel. Walaupun hidup dalam kemewahan, namun hati musa tersiksa hidup bersama Firaun.
Pada suatu hari, Musa melihat seorang lelaki Israel bertengkar dengan suruhan raja. Beliau muncul dalam kejadian itu dan coba melerai mereka. Namun lelaki suruhan raja berketurunan Mesir itu, tetap ngotot. Kemudian nabi Musa memukul pantat orang tersebut dengan kayu, kemudia lelaki itu pun meninggal dunia. Nabi Musa A.S. sangat sedih dan menyesal atas kejadian tersebut meskipun sebenarnya ia tidak bermaksud melakukan pembunuhan tersebut. Beliau merasa perbuatannya adalah perbuatan syaitan dan sedar akan kesalahannya dan berdoa supaya Allah melindunginya.
"…Musa berkata: "Ini adalah perbuatan syaitan, sesungguhnya syaitan adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya)." Musa berdoa: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiayai diriku sendiri kerana itu ampunilah aku". Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang."
(Al-Qasas, 28: 15-16)
Tidak lama selepas itu, berita pembunuhan itu telah tersebar luas. Para penduduk berencana untuk membunuh Nabi Musa A.S. Baginda berasa takut dan diberi petunjuk supaya berhijrah ke tempat lain.
“Dan datanglah seorang lelaki dari ujung kota seraya berkata "Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari kota ini) sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasihat kepadamu"
(Al-Qasas, 28: 20)
Nabi Musa AS segera meninggalkan rumah Firaun pada waktu malam. Akhirnya sampai di Madian selepas melalui perjalanan yang sangat panjang. Nabi Musa beristirahat di sana untuk mengambil air. Nabi Musa A.S. melihat dua orang gadis menunggu giliran dari jauh. Kambing mereka berdiri di sebelah sumur untuk diberi minum. Nabi Musa A.S. merasa kedua orang gadis tersebut memerlukan pertolongan. Walaupun sangat letih dan lapar beliau menemui mereka untuk memberikan bantuan. Mereka memberitahu bahwa mereka sedang menunggu binatang ternak mereka. Mereka takut kambing-kambing tersebut akan kabur jika ditinggalkan untuk mengambil air. Nabi Musa AS pun membawa kambing-kambing itu ke mata air untuk meminum air. Mereka mengambil kambing-kambing mereka dan membawanya pulang. Nabi Musa AS melanjutkan perisirahatannya. Nabi Musa AS mulai bersedih dan berdoa kepada Allah meminta pertolongan-Nya. Sementara itu, dua orang gadis itu datang kepada baginda dan berkata
"Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: "Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku"
(Al-Qasas, 28:24)
Nabi Musa AS pulang ke rumah bersama mereka. Musa memperkenalkan dirinya kepada ahli rumah, selepas makan malam, Musa diminta untuk menginap di rumah itu.
"Berkatalah dia (Syuaib): "Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu InsyaAllah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik." Dia (Musa) berkata: "Itulah (perjanjian) antara aku dan kamu. Mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku (lagi). Dan Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan."
(Al-Qasas, 28: 27-28)
Berdasarkan persetujuan yang telah di buat, Nabi Musa A.S. mengawini salah seorang daripada anak perempuan keluarga tersebut. Beliau menjaga ladang dan kambing-kambing dengan baik. Nabi Musa AS yang meninggalkan keluarganya selama beberapa tahun mulai merindukan saudara-saudaranya dan pergilah Musa untuk menemui saudaranya bersama keluarganya.
Suatu hari, Nabi Musa A.S. melintasi padang pasir dan akhirnya sampai ke sebuah gunung bernama Tur. Beliau melihat satu cahaya yang terang dari jauh dan baginda menyangka itu adalah perapian para kafilah. Tiba-tiba terdengar satu suara dari sebelah kanan lembah.
"Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku"
(Thaaha, 20: 12-14)
Nabi Musa AS berasa keliru dan takut. Cahaya yang kelihatan seperti api itu, bukanlah api yang sebenarnya tetapi ia adalah cahaya kemuliaan Allah. Saat itu adalah saat Nabi Musa AS diberi penghormatan tertinggi dalam hidupnya. Allah telah memerintahkan Nabi Musa AS untuk melemparkan tongkatnya ke tanah, tongkat tersebut berubah menjadi ular yang panjang dan besar. Beliau berpikir ular itu akan mematuknya tetapi Allah telah memberi petunjuk kepadanya supaya tidak takut dan disuruhlah Musa untuk menangkap ular tersebut. Apabila Musa menyentuh ular tersebut, maka ular tersebut berubah kembali menjadi kayu.
Setelah itu, Allah memerintahkan Nabi Musa A.S. untuk meletakkan tangannya di bawah ketiaknya. Setelah itu memancarlah cahaya putih dari tangannya. Allah Yang Maha Kuasa memberikan mukjizat-mukjizat tersebut kepada Nabi Musa AS supaya lebih yakin kepada Allah dan kekuasaanNya.
Allah memerintahkan Nabi Musa AS pergi ke Mesir untuk menyelamatkan kaum Israel dari ancaman Firaun dan menyeru mereka untuk meninggalkan agama bodoh dan kembali kepada agama Allah. Nabi Musa AS tidak mahir dalam berdakwah, ia tidak bisa bersuara dan berbicara dengan fasih. Beliau meminta kepada Allah untuk membawa saudaranya, Nabi Harun AS bersamanya kerana beliau adalah seorang yang fasih dalam berdakwah.
"Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya sebahagian rahmat Kami, yaitu saudaranya, Harun menjadi seorang nabi"
(Maryam, 19:53)
Nabi Musa A.S. menetap di Mesir bersama-sama dengan keluarganya. Mereka pergi menemui Firaun untuk berdakwah dan menyampaikan ajaran Allah. Mereka menyampaikan pesan dari Allah, tetapi dianggap gurauan belaka Firaun. Namun Nabi Musa AS tidak berputus asa dan terus menyeru. Raja dan rakyatnya tidak yakin dengannya dan akhirnya dalam keadaan terdesak, baginda berkata
"Wahai Tuanku, maukah kutunjukan kepadamu bahwa seruanku adalah benar." Firaun hanya tersenyum mengejek dan tidak percaya kepada Musa. Lalu Nabi Musa AS melemparkan tongkat baginda ke tanah dan serta merta tongkat tersebut berubah menjadi ular. Ketika ular itu disentuh ular tersebut kembali menjadi tongkat. Kemudian Musa meletakkan pula tangannya di bawah ketiaknya sendiri. Tangannya menjadi bersinar dengan terang ketika dikeluarkan dari ketiaknya.
"Maka Musa melemparkan tongkatnya, yang tiba-tiba tongkat itu (menjadi) ular yang nyata."
(Asy-Syu'ara 26: 32)
Firaun sangat takut jika penduduknya mengikuti ajaran Nabi Musa AS. Oleh karena itu dia mengadakan satu pertandingan antara Nabi Musa AS dengan ahli sihir dari pelosok negeri nya untuk menandingi Nabi Musa AS. Dia menjanjikan anugerah kepada siapa saja yang memenangkan pertandingan tersebut.
Pada hari yang telah ditentukan, pertandingan tersebut dilaksanakan. Ahli-ahli sihir melemparkan tongkat mereka lalu ia kelihatan seperti ular dari jauh. Nabi Musa AS melemparkan tongkatnya untuk menunjukkan mukjizatnya. Tongkatnya menjadi seekor ular besar yang sangat lapar, lantas memakan ular-ular ahli-ahli sihir yang lain. Semua pemerhati menjadi terpegun dan ahli-ahli sihir mula mempercayai Nabi Musa A.S. dan berkata
"Kami beriman kepada Tuhan semesta alam, (yaitu) Tuhan Musa dan Harun."
(Al-A'raf, 7: 121-122)
Firaun merasa semakin takut dan gusar dengan dakwah Nabi Musa AS. Dia menjadi sangat marah kerana orang-orangnya mulai mengikuti ajaran Nabi Musa A.S. Dia mengancam mereka dengan akibat yang dasyat. Dia berkata
"Sesungguhnya aku akan memotong tangan tangan dan kakimu dengan bersilang secara bertimbal balik. Kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalib semuanya".
(Al-A'raf, 7: 124)
Firaun dan pengikutnya mula menindas pengikut-pengikut Nabi Musa AS. Kaum Israel tetap bersabar dan mulai beribadat di rumah mereka dan sentiasa berdoa kepada Allah. Mereka berkata
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami mendapat fitnah (cubaan) dari kaum yang aniaya"
(Yunus, 10: 85)
Ketika penindasan Firaun semakin merajalela, dan kaum Israel semakin tertekan, Allah memerintahkan Nabi Musa A.S. dan para pengikutnya meninggalkan kawasan tersebut dan berjanji akan menyelamatkan mereka. Kaum Israel meninggalkan Mesir di waktu malam. Mereka bergerak dengan yakin bahwa mereka akan diselamatkan oleh Allah. Keesokan harinya, kawasan kaum Israel ditemukan sudadh kosong. Firaun mendapat kabar mengenai hilangnya pengikut Musa tersebut, Firaun menjadi amat marah dan mengutus bala tenteranya untuk mengejar Nabi Musa AS dan pengikutnya. Nabi Musa AS yang sudah sampai di tepi laut mendengar bunyi tapak kaki kuda dari tentara Firaun yang sedang mengejar mereka. Lalu mereka menjadi sangat takut dan merasakan yang mereka akan ditangkap dan dihukum oleh Firaun. Ketika Nabi Musa AS dan para pengikutnya dikejar, Allah telah mewahyukan kepada Nabi Musa AS
"Lalu Kami wahyukan kepada Musa: "Pukulah lautan itu dengan tongkatmu". Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar".
(Asy-Syu'ara, 26:63)
Setelah Nabi Musa AS meukulkan tongkatnya ke laut, maka Air laut terbelah dan dasar laut menjadi kering. Dalam keadaan terdesak, mereka segera melintasi laut yang terbelah itu, setelah tiba di seberangnya, laut tersebut kembali seperti semula dan menenggelamkan balatentara firaun yang mengejarnya.
"Maka Firaun dengan bala tenteranya mengejar mereka, lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan mereka"
(Thaaha, 20: 90-92)
Nabi Musa A.S. dan pengikutnya selamat dari kejaran Firaun. Mereka bersyukur kepada Allah. Mereka telah menyaksikan mukjizat yang menakjubkan dan mereka sekarang hidup bebas mengikut ajaran Allah.
Allah telah memerintahkan Nabi Musa AS untuk pergi ke sebuah gunung untuk mengasingkan diri. Nabi Musa AS berada di sana selama 40 hari. Allah telah mewahyukan ilmu keagamaan yang banyak kepadanya dan dikurniakan kitab yang mengandung sepuluh perintah.
"Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) nescaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sedar kembali, dia berkata "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman."
(Al-A'raaf, 7: 143)
Pada hari yang ditetapkan, baginda menemui pengikutnya dengan wahyu yang diterima. Nabi Musa AS berasa sangat sedih mengetahui kaumnya telah menyembah lembu, bukannya Allah Tuhan yang satu. Nabi Harun AS menasihati mereka supaya kembali kepada Allah tetapi tidak dihiraukan oleh mereka. Mereka menyiksa Nabi Musa AS yang mencoba menyeru kembali kepada kaumnya. Setengah dari mereka kembali ke jalan yang benar tetapi kebanyakan dari mereka tetap menyembah lembu. Nabi Musa A.S. berkata kepada kaumnya
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina"
(Al-Baqarah, 2:67)
Tibalah satu musim kemarau. Keadaan ini menyebabkan kekurangan air dan buah-buahan serta makanan. Para penduduk mulai mati kelaparan. Nabi Musa AS berdoa kepada Allah dan Allah menurunkan mereka bahan makanan tetapi tidak terdapat air di kawasan tersebut. Mereka menemui Nabi Musa AS untuk meminta pertolongan. Nabi Musa AS pun memohon kepada Allah, maka beliau diperintahkan untuk memukul tebing yang tinggi dengan tongkatnya. Nabi Musa AS melakukannya sambil berkata “dengan Nama Allah yang Maha Kuasa” maka terbitlah air dari tebing tersebut.
Terdapat 12 tempat pada tebing tersebut yang mengeluarkan air yang sejuk. Orang ramai terpegun dengan kejadian yang menakjubkan itu.
"Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: "Pukullah batu itu dengan tongkatmu". Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerosakan"
(Al-Baqarah, 2: 60)
Kaum Israel terdiri daripada 12 cabang dari keturunan Nabi Ya'qub A.S. Jadi, setiap cabang keturunan tersebut datang untuk minum dari setiap mata air tersebut. Mereka minum dengan tenang tanpa berebut-rebut di mata airnya masing-masing.
Setelah kaum Israel hidup dengan tenang hingga pada masa yang telah ditentukan, Nabi Musa AS berencana hijrah ke tanah suci Palestin. Nabi Musa AS mengutus 12 orang lelaki untuk melihat tempat tersebut. Mereka kembali dan memberitahukan bahwa di sana terdapat pepohon dan ladang yang subur. Kawasan itu juga mempunyai sumber air yang cukup. Berita ini membuat semua orang Israel ingin hijrah ke sana. Mereka juga diberitahu pemilik tanah tersebut kuat dan berani. Mereka juga mempunyai tentera yang kebal. Maka mustahil bagi mereka untuk mendiami tanah tersebut tanpa berperang. Kaum Israel menjadi sangat takut kerana mereka tidak mempunyai kekuatan dan balatentara.
Nabi Musa AS bersama kumpulan kecil kaum Israel pergi menentang orang-orang Palestin namun kebanyakan daripada mereka menolak. Sebahagiannya berkata "Pergilah kamu dengan Tuhanmu melawan mereka. Kami akan berada di sini dan menunggu”
Setelah beberapa tahun, keturunan kaum Israel semakin bertambah. Akhirnya mereka memiliki satu pasukan tentera yang cukup kuat dan coba menaklukan tanah Palestina. Akhirnya mereka berjaya menjadi pemerintah bumi Palestin dan Allah mengurniakan kepada mereka kesenangan hidup di bumi tersebut.